Selasa, 04 Oktober 2011

Paradoks.....

Sebuah cerita tentang cinta yang mengalun indah di ruang rindu.
Terkadang menyisipkan asa terpendam ingin memiliki dan dimiliki.
Ribuan kata yang telah terpapar di ujung lidah serasa akan keluar.
Terucap, terlepas bebas satu persatu meluncur bagai derasnya arus.

Sekisah mimpi yang tadi malam hadir, teringat kembali menjadi pengharapan.
Berubah perlahan menjadi cita yang harus di capai.
Berangsur-angsur menguasai ego akan kepemilikan dan mulai menentang takdir.
Terkadang...tanpa sadar bibir bahkan jiwa berbisik melaknat takdir.

Seuntai alunan lagu yang bercerita tentang hati.
Indah... sangat indah serasa berjalan mulus terbang ke nirwana.
Tolehan paras kedepan dan kebelakang hanya terlihat paparan lukisan indah yang bersemi.
Bisikan dan alunan  yang terdengar hanya kekuatan cinta, tanpa luka dan tanpa tangis.

Tiba-tiba lamunku terhenyak, semuanya berakhir
 Berhenti, gelap, gersang.
Cerita cinta, mimpi, alunan lagu semua lenyap.
 Yang terdengar dan terlihat jiwa kosong penuh cercahan luka membawa air mata.

Sekepal tangan mencengkramku erat, sangat erat.
Untuk terlepas dan bahkan menoleh pun aku tak mampu.
Terpenjara kelu hati nan sesak.
Mata, telinga tak menyisakan asa, semuanya gelap.

Sejuta luka menghantamku tepat di hati, tepat di jiwa.
Berat untaian hati tak terperikan, bahkan setetes asa yang ada pun terasa mencekik.
Bagai tersadar dari alam mimpi yang indah, bagai pulang ke dunia nyata.
Semuanya terlihat jelas, ternyata aku tak pernah punya cinta itu, bahkan tak pernah menyentuhnya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar